KISAH Boas
Salossa, Dari Papua Untuk Indonesia
Papua layaknya brazil bagi sepakbola Indonesia. Hampir
setiap edisi timnas, Indonesia selalu dihuni nama-nama asal papua. Yang terbaru
adalah ramai rumaiek serta ricky kambuaya.
Sportindo kali ini akan membahas
tentang Boas salossa, striker asal papua yang jadi legenda Indonesia. Sebelum
lanjut ke pembahasan jangan lupa like, komen dan subscribe saluran ini.
Gelaran AFF 2020 memang telah usai. Indonesia gagal menjadi
jawara dan hanya mencatatkan posisi kedua. Sebagian supporter bangga karena
mayoritas pemain muda, sebagian lagi sedih luar biasa. Perjuangan garuda rasanya
sangat istimewa, sayang posisi striker menjadi titik paling lemah garuda.
Indonesia krisis striker. Padahal, dulu kita punya banyak
striker berkualitas. Sebut saja, kurniawan dwi yulianto, zaenal arif, bambang
pamungkas, samsul arif, budi sudarsono, serta boas salossa. Andai waktu bisa
diulang, rasanya ingin salah satu nama itu mengisi posisi striker timnas Indonesia.
Salah satu nama kontorversial muncul. Boas salossa// pemain
asal papua yang selalu tampil konsisten. Boas salossa merupakan sosok panutan
bagi talenta muda tanah air. meskipun dirinya tidak lepas dari berbagai
kontroversi. Terlepas dari itu semua, dirinya sukses menjadi kapten timnas dan
persipura.
AFF Pertama
Sosok boas salossa pertama kali muncul kala dirinya membela
perseru serui U-17 dalam piala soeratin 2004. Boas salossa juga berhasil
mengantarkan tim sepakbola papua meraih medali emas pada PON Palembang 2004.
Kepiawaian boas membuat pelatih timnas kala itu. Peter
white, sang juru taktik timnas memanggil Boas salossa untuk turut serta dalam
gelaran piala tiger 2004. Boas kala itu masih berusia 18 tahun.
"Boaz pemain istimewa.
Pada usianya yang sangat muda permainannya terlihat amat matang. Saya berharap
para pemain senior bisa membantunya, agar ia bisa membawa dampak yang
menguntungkan bagi tim," kata Peter Withe jelang Piala AFF 2004.
Boas muda kala itu tampil
bersama beberapa pemain kaya pengalaman sekaliber elie eiboy dan ilhan jaya
kusuma. Menjadi salah satu pemain termuda nampaknya membuat boas tampil penuh
semangat. Namanya sontak ramai menjadi perbincangan kala itu.
Pemain muda ini mampu
melesahkan 4 gol selama gelaran AFF 2004. Penampilan impresif bersama tim
garuda membuat namanya semakin melambung. Kala itu timnas Indonesia mampu
melaju hingga partai final. Sayang timnas Indonesia gagal menjadi juara untuk
ketiga kalinya setelah kalah dari singapura dengan agregat 2-5.
Cidera Parah
Boas Salossa merupaan sosok
penyerang yang mengerikan. Skill dan akselerasi tinggi membuat banyak pemain
bertahan lawan berusaha menjegalnya. Layaknya messi atau romaldo, lawan selalu
berusaha melakukan hal-hal tidak sportif kala melawan boas. Puncaknya ketika
tekel keras Baihaki Khaizan mengenai kaki Boas. Bek timnas singapura ini
berhasil membuat boas cidera parah.
Tekel bek singapura
terjadi pada partai final AFF 2004. Boaspun harus menepi dari dunia sepakbola
guna melakukan penyembuhan. Setelah sembuh boas mampu kembali pada performa
terbaiknya.
Sosok striker yang identic
dengan persipura ini kembali diperjaya mengawal lini serang garuda. Kali ini
dirinya turut serta dalam persiapan piala asia 2007. Indonesia menjadi tuan
rumah dan tentu saja siap turun dalam putaran final piala asia. Sebagai
persiapan Timnas asuhan ivan kolev melakukan seragam persiapan.
Uji coba melawan hongkong
menjadi petaka untuk Indonesia. Boas salossa kembali mengalami cidera patah
kala menghadapi hongkong. Patah kaki untuk kedua kalinya, dan kali ini sangat
parah. Bahkan boci, sapaan akrab boas. Dirinya mengaku tidak tau dapat
melanjutkan karier sepakbolanya atau tidak.
“Setelah ditekel lawan,
saya melihat kondisi kaki. Saat itu saya langsung berpikir tak akan bisa lagi
main sepakbola. Cedera yang saya alami terlihat mengerikan,” ucap Boaz
mengenang tragedi cedera tahun 2007.
Akhirnya Indonesia
kehilangan sosok penting lini serang garuda. Padahal kala itu dirinya sedang
memasuki usia emas pemain bola.
Indisipliner
Beruntung bagi boci.
Insiden mengerikan kala bersua hongkong tidak berkepanjangan. Dirinya mampu
kembali sehat dan tampil sebagai penyerang tajam bagi persipura. Pemain ini
memang sangat dicintai public papua serta Indonesia karena kemampuannya dalam
mengolah si kulit bundar. Sayang, beberapa kali insiden cukup mencoreng
namanya.
Boas salossa pernah di
coret Alfred riedl karena tidak memenuhi panggilan timnas kala pemusatan
latihan. Saat itu timnas Indonesia sedang melakukan persiapan menyambut piala
AFF 2010. Indonesia menjadi tuan rumah dan sangat di unggulkan menjadi juara.
Selain pada gelaran AFF
2010, boas juga pernah di skorsing selama satu tahun. Kejadian ini terjadi pada
tahun 2005 silam. Persipura saat itu bertemu dengan persebaya Surabaya dalam
lanjutan piala Indonesia. Boas kala itu terpancing emosi dan kedapatan
menendang wasit yang memimpin pertandingan.
Sikap boas selama berlaga
bersama timnas Indonesia juga menjadi sorotan. Dirinya acapkali kedapatan tidak
menyanyikan lagu Indonesia raya. Hal ini membuat beragam spekulasi. Salah satu
tuduhan yang paling keras adalah anggapan bahwa boas tidak memiliki jiwa
nasionalisme.
Anggapan tidak
nasionalisme kepada boas sontak membuat dirinya tidak nyaman. Boas pun
memberikan sebuah pernyataan tentang dirinya.
"Apa yang terjadi ini
(cedera parah) membuktikan saya akan selalu total kalau dipercaya main untuk
timnas. Jangan pernah mengatakan saya tak nasionalis," kata Boaz saat
menjalani pemulihan cedera pada 2007.
Ya… boas salossa pernah
cidera parah sebanyak dua kali. Cidera ini dialami selama membela timnas
Indonesia bukan persipura jayapura. Sosok boas salossa memang cukup menarik.
Dirinya mampu tampil konsisten meskipun dengan beragam kontoroversi.
Boas salossa kini jadi
legenda sepakbola tanah air. semoga Papua mampu melahirkan striker-striker muda
potensial yang akan mampu meneruskan perjuangan kakak boci. Terimakasih boas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar