KURNIAWAN
DWI YULIANTO : MANTAN PEMAIN SAMDORIA YANG AKAN LATIH KLUB ITALIA
Kurniawan
Dwi Yulianto, legenda hidup timnas Indonesia yang sudah merasakan atmosfer
sepakbola Italia di masa lalu.
Sportindo kali ini akan membahas kisah kurniawan dwi yulianto,
pemain yang pernah bermain untuk sampdoria. Sebelum lanjut jangan lupa like,
komen, dan subscribe saluran ini.
Pecinta
sepakbola tahun 2000an sepertinya sudah agak asing dengan nama Kurniawan Dwi
Yulianto. Pecinta sepakbola masa kini pastinya lebih mengenal egy, atau asnawi
yang terasa hebat karena mampu tampil di luar negri.
Tapi, para
penikmat sepakbola tahun 90an. Mereka pasti sangat mengenal sosok Kurniawan Dwi
Yulianto. Striker berkepala plontos yang akrab dengan sapaan si kurus. Ya,,,
kurniawan merupakan sosok yang cukup di segani. Bahkan, beberapa pemain bola
juga mengidolakan kurniawan dwi yulianto.
Bambang
pamungkas, striker Indonesia yang identic dengan nomor punggung 20 ini juga
sangat mengidolakan sosok pemain yang pernah membela klub sampdoria dan FC
Luzern (Swiss)
“"Saya
masih kelas 2 SMA dan menjadi siswa Diklat Salatiga tahun kedua. Saya harus
akui Bambang muda adalah pendukung Pelita Jaya. Walaupun saya tinggal Salatiga
atau katakanlah Kabupaten Semarang, akan tetapi saya adalah fan dari Pelita
Jaya," kata Bambang Pamungkas di akun Youtube-nya.
"Mengapa?
Karena di sana ada sosok yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang pesepak
bola. Saya pikir alasan saya ketika itu hampir sama dengan seluruh pesepak bola
muda di Indonesia pada zaman itu karena idola saya bermain di sana, yaitu
Kurniawan Dwi Yulianto," ucap pemain yang akrab disapa Bepe.
Awal Karier
Kurniawan
Dwi Yulianto lahir di magelang pada 13 Juli 1976. Dirinya memulai petualangan
sepakbola dinegeri pizza kala tergabung dengan program PSSI bernama primavera.
Program ini mirip dengan program garuda select masa kini. Para pemain muda
potensial jebolan piala soeratin akan dibawa ke italia untuk belajar tradisi
sepakbola professional.
Kurniawan
menjadi salah satu pemain pilihan yang tergabung dalam program ini. Berposisi
sebagai striker, dirinya tampil impresif berbekal kelincahan serta naluri
mencetak golnya. Kemampuannya sontak membuat klub serie-A (Sampdoria)
meminangnya.
Bersama
sampdoria, kurniawan bermain bersama gianluca viali dan Roberto mancini.
Sayang, kebersamaan si kurus dengan il samp hanya seumur jagung. Dirinya turut
serta dalam program pramusim sampdoria ke Asia.
"Saat pramusim ke Indonesia, saya
diikutsertakan. Ada laga lain juga di Thailand, Hong Kong, dan China. Tapi,
saya tak bermain di Sampdoria. Selesai pramusim, saya mengikuti tes di FC
Luzern, klub Swiss," ujar Kurniawan dalam wawancaranya bersama Hamka
Hamzah di YouTube Hamka Story 23.
Kurniawan
akhirnya tidak mendapatkan kontrak resmi dari sampdoria karena gagal bersaing
dengan barisan penyerang Il Samp. Kala itu dirinya harus bersaing dengan pemain
sekaliber Roberto Mancini, Enrico Chiesa (ayah dari Federico chiesa), serta
Fillipo Minero.
Kurniawan
akhirnya memutuskan untuk mengikuti trial bersama klub FC Luzern. Kurniawan
kemudian menjadi punggawa FC Luzern selama satu musim. Selama tahun 1995-1996,
kurniawan tampil sebanyak 12 kali dan mampu mengemas 3 gol. Sayang setelah itu,
dirinya memutuskan untuk kembali ke tanah air.
Pulang ke Indonesia
Pulang dari
eropa ke Indonesia nampaknya tidak membuat media senang. Beberapa media
Indonesia justru membuat berita-berita yang kurang mengenakkan. Kabarnya
kurniawan sempat ingin pension karena tidak kuat dengan serangan-serangan media
kala itu.
“Gilalah,
saya pulang di hajar media. Saya pikir kepulangan saya akan dilindungi,
ternyata dihajar. Bahkan saya sempat bilang sama orang tua, apa saya harus
berhenti bermain sepak bola karena saya kasihan, orang tua saya menangis,”
cerita Kurniawan.
Wah kalau
pemain sekarang sepertinya sudah kebal ya dengan media. Sudah masa bodo yang
penting hidup senang. Beda dengan kurniawan zaman dulu.
Untung,
niat kurniawan ini di gagalkan oleh sang ayah. Dirinya mampu kembali menjalani
kariernya sebagai sepakbola. Dirinya membela Pelita Jaya selama 3 musim dan
mampu menjelma sebagai striker andalan timnas Indonesia. Selama karirnya di
sepak bola profesional, Kurniawan sudah tampil 402 kali dan mencetak 200 gol.
Kurniawan
Dwi Yulianto tercatat sebagai pencetak gol terbanyak kedua tim garuda dengan
catatan 30 gol. Selisih 4 gol dari juniornya (bambang pamungkas) dengan koleksi
34 gol.
Karier Sebagai Pelatih.
Kurniawan
memutuskan untuk gantung sepatu pada tahun 2013. Selepas pension sebagai pemain
sepakbola, kurniawan kemudian melanjutkan karier sebagai seorang pelatih.
Dirinya tercatat menjadi pelatih kepala tim Sabah FA. Mempunyai isteri orang
Malaysia membuat dirinya dekat juga dengan sepakbola Malaysia.
Selepas
dari sabah FA, Kurniawan melanjutkan perjalanan sebagai pelatih di tim italia.
Diketahui bahwa Kurniawan Dwi Yulianto akan kembali ke Negara Pizza untuk
menjadi salah satu asisten klub kasta dua disana. Como 1907 menjadi klub baru
yang akan ditangani si kurus.
Kurniawan
menandatangani kontrak selama 1,5 tahun dan berharap mampu belajar banyak di
italia.
“Jujur saya
ingin belajar banyak di sana. Pengalaman merupakan nilai plus dalam sepakbola.
Tetapi, saya waktu itu bilang ke pak Nirwan, saya ke sana bukan hanya sekadar
menjadi asisten coach,” kata Kurniawan Dwi Yulianto saat hadir di Channel
YouTube Akurasi TV.
“Saya juga
ingin melihat bagaimana pre season dan on season mereka. Jadi kalau saya datang
Januari, minimal saya mau dikontrak 1,5 tahun sehingga bisa lihat satu musim
full,” lanjut mantan pelatih klub Malaysia, Sabah FC tersebut.
Selain
menjadi assisten pelatih disana, Kurniawan juga sedang mengejar lisensi Uefa
Pro sebagai seorang pelatih. Jika menjadi kenyataan, dirinya akan menjadi orang
pertama yang akan mendapatkan lisensi Uefa Pro.
Kurniawan merupakan
sosok legenda yang masih aktif membangun sepakbola dari dirinya sendiri. Semoga
kemampuan dirinya akan dimanfaatkan oleh tim garuda. Sayang jika nantinya
kurniawan justru berjuang memajukan sepakbola Malaysia mengingat sang isteri
asli orang Malaysia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar